Sunday, December 19, 2010

BEGINILAH CARAKU MENJAGA HATI

Assalamualikum warahmatullah
Bismillahirrahmanirrahiim....

Ini adalah sebuah cerita nyata yang di ambil di sini. Hal ini berkaitan dengan caranya menjaga hati. Mungkin dengan ini kita mampu mengambil ibrah dari apa yang didapat dari cerita ini. Insya Allah.

*****


Telah 5 tahun sudah, ku mencuba untuk mempertahankan hati ini untuknya, walaupun aku belum pernah melihat, mendengar, berinteraksi dan bertemu dengannya secara langsung untuk menjaga kesucian hatiku kepadaNya. Cerita ini berawal ketika hidayah itu telah datang dan dengan datangnya itu mampu mengubah segalanya jadi lebih indah dan terarah untuk ku tempuh.

Dahulu aku adalah seorang anak manusia yang biasa-biasa saja, seperti anak muda normal lainnya. Aku pun terkadang sering jatuh cinta kepada siapa yang aku kagumi. Hampir setiap hari mungkin hidupku terbiasa akan hal itu, hingga hal itu menjadi sesuatu yang lumrah dalam peribadiku.

Namun, pada suatu ketika datanglah Hidayah kepadaku. Hidayah yang didasari dari materi Cinta kepada Allah yang banyak aku pelajari dari sekelilingku ditambah dengan materi dari guru ngajiku ketika mentoring di sekolah. Hidayah itu menumbuhkan aku untuk mencintai Rabb (Tuhan) sehingga membuatku rela untuk menyingkirkan yang lainnya di hatiku terkecuali aku mencintai yang lainnya karenaNya.

Kedatangan Cahaya itu mampu membuatku membuka mata hatiku dalam mengaplikasikan cinta, tanpa harus membawaku kepada jurang kehancuran. Sehingga akupun mulai berhati-hati terhadap hatiku dalam mencintai agar Cintaku kepada Allah yang telah dikurniakanNya kepadaku mampu ku jaga karena aku menyedari bahawa hatiku miliknya. Dan karena aku pun juga menyedari bahawa cinta yang salah mampu melumpuhkan kualiti Cintaku denganNya, sedangkan yang aku harapkan adalah CintaNya karena tidak ada yang mampu mencukupiku kecuali Dia.



Sejak kedatangannya, hidayah itu mampu merubah segalanya yang ada pada diriku seperti masalah cara berfikir dan keperibadianku hingga orintasiku dalam mencintai sesuatu. Termasuk masalah ketertarikanku dalam menyukai sesuatu. Jika sebelumnya mungkin aku tertarik kepada wanita yang biasa-biasa saja, maka setelah Hidayah itu datang justeru hatiku tertarik untuk menyukai muslimah dengan busana khas dan sikapnya yang cenderung pemalu. Dan oleh karena itu akupun berharap agar Allah menakdirkanku untuk menikah dengan salah satu di antara mereka, muslimah yang shalehah. Insya Allah, Allahuma Amiin. Karena aku mengetahui bahwa menikah adalah Sunnah Rasulullah.

Walaupun demikian, namun Hidayah itupun mampu mengajarkan aku dalam mengendalikan perasanku agar hatiku tidak salah dalam menyikapi apa yang menarik hatiku. Karena bagiku rasa ketertarikanku cukuplah akan aku tumpahkan kepada istriku kelak walaupun aku belum pernah bertemu dengannya. Karena sejak awal, hidayah itu mampu membuatku memahami diriku akan hakikat mencintai pasanganku walaupun sebelum aku menikah dengannya tanpa membuat aku cenderung melupakan Allah, lantaran aku memahami bahwa kalau saja Allah menjadikan aku menikah dengan seseorang perempuan yang ditakdirkan Allah kepadaku maka untuk apa aku berharap dan menghabiskan waktuku kepada yang lainnya yang belum tentu akan menjadi istriku kelak, sedangkan hati ini mudah terdominasi dengan sesuatu hal yang lain jika kita tidak mampu mempertahankan hakikatnya dalam mencintai Rabb?.

Dan karena akupun tidak memungkiri bahwa setiap manusia yang normal pasti akan merasakan fitrahnya, termasuk permasalahan ketertarikannya terhadap lawan jenis, maka jika harus demikian, menurutku untuk apa jika hati ini aku tambatkan kepada siapa yang bukan orangnya nanti, jika memang hati ini sangat peka terhadap pengaruh diri yang memilikinya ketika hati itu salah dalam pengelolaannya. Oleh karenanya, aku memahami bahwa: Jika memang aku harus mencintai lantaran mencintai lawan jenis adalah fitrahku sebagai manusia maka aku akan mencuba untuk mencintai siapa yang akan aku nikahi nanti walaupun aku belum pernah bertemu dengannya, lantaran pasti Allah akan mempertemukanku dengannya, sehingga usahaku yang sia-sia akan cenderung berkurang di dalam lingkup fitrahku. Insya Allah

Sejak saat itu hatiku mulai tersadarkan untuk meninggalkan hal-hal yang sia-sia dalam cinta yang tidak memberikan manfaat kepadaku dalam mencintaiNya dan cinta yang mampu membuat hatiku cenderung meninggalkan Rabb.

*****


Waktupun berjalan seiring kegembiraanku atas datangnya hidayah itu. Hingga tanpa aku sedari godaaan-godaan kecilpun datang dari sekelilingku untuk menyukai muslimah yang aku rasa belum saatnya aku harus bersikap demikian kepadanya. Tanpa ku sedari hal itu mampu membuatku sedikit gundah, mungkin karena aku belum mampu mengendalikan fikiranku terhadap apa yang mempesonakanku terhadap mereka.

Kegundahanku itu membuatku khawatir jika dengan demikian maka nikmat karunia yang berupa Hidayah itu akan menyingkir dari diriku lantaran sikapku yang salah. Sehingga, akupun berdoa dan meminta petunjuk kepada Allah agar Allah mengkaruniakanku kefahaman agar aku terus istiqomah untuk menyikapi hatiku ketika ia harus menghadapi fitrahnya.

Singkat cerita, lantaran aku mengetahui bahwa istikharah adalah salah satu cara yang dapat meyakinkan diri kita terhadap suatu pilihan, oleh karenanya setiap godaan itu datang, dan di setiap ketidakmampuanku dalam menjaga diriku dalam mengelola hati, maka akupun berusaha untuk mengistikharahkan siapapun yang mempesonakanku agar aku dapat mengetahui diantara mereka siapakah orang yang aku “cari” sehingga hal itu dapat cenderung membuatku terhindar dari kesia-siaanku dalam pengelolaan hati yang salah yang aku takutkan dapat cenderung mampu melumpuhkan rasa Cintaku kepada Rabbku.


Setelah aku membiasakan diri untuk istikharah di setiap waktu ada yang mempesonakanku, seolah dengan itu hatiku mampu diyakinkan kepada siapa yang akan aku nikahi nanti walaupun aku belum pernah mengenalnya. Sepertinya dirinya telah terkesan di hatiku sehingga hal itu mampu membedakan dirinya dengan yang lainnya, kemudian dengan itu dapat membuatku melepaskan harapan dan keinginan hatiku kepada arah yang salah dalam pengelolaannya terhadap siapa yang bukan orangnya. Mungkin inilah cara Allah dalam meyakinkanku untuk mempertahankan hatiku kepada siapa yang pantas aku cintai nantinya yang salah satunya diperoleh melalui jawaban dari istikharah-istikharah itu.

Walaupun demikian, aku masih tetap seperti dengan manusia normal lainnya, hal ini kubuktikan dengan masih adanya rasa kagum dengan muslimah yang mempesonakanku, namun keberadaan mereka tidak sempat singgah dihatiku lantaran hatiku seolah gelisah ketika aku mendapati orang yang salah jika ku taruh di “sembarang” tempat dihatiku. Namun ketika aku mengingat tentang sosok yang aku yakini akan aku nikahi nantinya, dan ku hadirkan dia di hatiku, meskipun aku belum mengenalnya dan aku belum mengetahui jasadnya, maka entah mengapa perasaanku seolah (cenderung) tenteram karenanya. Mungkin hal itu terjadi karena hatiku telah berfatwa terhadapnya....

Mengenai hati yang berfatwa, aku menjadi teringat dengan sebuah hadith Rasulullah bahwa:

Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan itu adalah ketika jiwa dan hati menjadi tenang kepadanya. Sedangkan al-itsm (dosa) adalah yang membingungkan jiwa dan meragukan hati. Meskipun manusia memberi fatwa kepadamu." (HR Muslim)

Mungkin karena ketenteraman dan kegelisahan yang aku dapati itulah dapat membuat diriku mengurungkan diri untuk tidak melepaskan tambatan hati ini kepada orang yang bukan dirinya yang akan aku nikahi nanti.

*****

Waktu berjalan dengan caraku menjaga hati itu, membuat hidupku lebih tersenyum lantaran kegundahanku itu mengurang seiring usahaku dalam meyakinkan hatiku untuk tidak salah dalam pengelolaannya melalui istikharah-istikharahku kepada Rabb. Semua itu aku lakukan untuk mempertahankan hatiku kepada Pemiliknya karena aku berharap agar Pemiliknya tidak tersingkir dari singgahsananya lantaran pengelolaan yang salah.

Namun, cubaan belum begitu saja berakhir hingga pada suatu ketika Allah sibakkan aku bertemu dengan seorang muslimah yang begitu mengagumkan. Dia berbeda, tidak seperti muslimah yang pernah aku temui pada biasanya, lantaran keberadaannya entah mengapa hampir menyerupai perasaanku terhadap sosok yang akan aku nikahi itu.

Kemungkinan ini jauh dari apa yang aku bayangkan, karena hal ini sepertinya akan lebih mengancam pertahananku dalam mempertahankan hatiku untuk Rabb. Apalagi aku meyadari bahwa wanita merupakan godaan terbesar seorang laki-laki.

Terkadang fikirankupun terbuai dengan dirinya di saat-saat aku kurang siaga dalam memelihara hati ini untukNya. Hingga akupun kehilangan definisi dalam mempertahankan hatiku untukNya. Mungkin karena terpesonanya aku dengan keserupaannya dengan keyakinanku terhadap sosok yang akan ku nikahi itu, membuatku terlupa untuk mengetahui jawabannya dengan istikharah-istikharahku dalam usahaku meyakinkan diriku atasnya.

Dan tanpa ku sadari...
Hal-hal Rabbani (Ketuhanan (maksudnya: Keislaman)) yang aku kenali seolah menjadi nuansa yang datar di hati, awalnya ku anggap hal itu sebagai futur (menurunnya iman) yang biasa, namun aku mendapati bahwa nuansa khas itu belum kunjung tiba dalam waktu yang cukup lama dan ketika aku telah lelah menunggu kedatangannya kembali.

Hal-hal yang dahulunya begitu peka di relung-relung hati ini seolah berkurang penginderaannya, hingga akupun menyadari bahwa hal ini terjadi karena sikapku yang salah dalam pengelolaan hati terhadap seorang muslimah yang menyerupai sosok yang akan aku nikahi itu.

Ketika aku tersadar, hal itu dapat membuatku takut ketika aku berfikir jikalau Allah mem-futurkanku dengan keadaan yang demikian. Jika demikian aku harus melakukan tindakan pencegahan agar perbuatanku tidak menjadikan keburukan bagiku.


Sesekali ku cuba bertanya dalam hati, bahwa jika memang dirinya adalah orangnya maka hal itu seharusnya tidak membuatku jauh dari Allah, lantaran dasarku menambatkan hati kepadanya adalah karena Cintaku kepada Rabb. Hingga akhirnya aku menyedari dari gerak hatiku bahwa bukan muslimah itulah orangnya.

Hingga keadaanpun mampu menegurku, sehingga dapat membantu menyedarkanku dari kesalahan yang telah aku perbuat, meskipun pesonaku terhadapnya belum pulih.

Pada suatu malam, akhirnya ku coba diri ini memohon ampun kepada Allah atas apa yang telah aku perbuat, dan memohon pulihnya karunia yang sekiranya enggan terasa indah dihatiku ketika itu. Dan akupun berharap kepadaNya agar hal yang seperti itu tidak terjadi kembali, lantaran aku tidak mau lagi bermain-main dengan hati ini lantaran aku sedari bahwa hati ini milikNya dan hanya kepada dan karenaNyalah seharusnya ku tambatkan. Dan aku berharap agar Allah menguatkan firasatku kepada sosok yang telah aku yakini yang terlahir dari istikharah-istikharahku terhadap siapa saja yang pernah mempesonakanku.

Hingga akupun memberanikah diri untuk berdoa:
"Yaa Allah, Sucikanlah hatiku hanya untuk siapa yang pantas menempatinya dengan keredhaanMu. Cukup dia sajalah yang aku cintai karena aku tidak menginginkan keburukan ketika aku berbuat salah terhadap hatiku. “

Ya Allah, aku tahu bahwa Engkau Maha Berkehendak dan akupun tidak meragukan KekuasaanMu Karena Engkau adalah Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka aku memohon kepadaMu agar Engkau memampukan diriku untuk dapat mengetahui wajah dari siapa yang akan aku nikahi nanti walaupun hanya sekejap saja agar dengan itu aku mampu membedakan dirinya dengan yang bukan dirinya, agar aku dapat cenderung menjauhkan hati ini dari kesia-siaan. Aku yakin bahwa Engkau mampu menjadikannya, dan aku yakin atas hal yang terbaik bagiku dari segala keinginanku, ku lakukan ini karena aku telah merindukannya dan mensyukurinya lantaran Engkau takdirkan aku kepadaNya. Dan maafkan aku jika aku tersalah. Ku mohon atas KuasaMu, ya Rabb.

Dan pertemukanlah aku dengannya ketika aku hendak menikahinya agar aku tidak berlama-lama menjadikan hati ini terlena dengannya walaupun aku tahu bahwa nantinya dia akan aku nikahi.

Jagalah hatiku untukMu Rabb, karena aku ingin selalu MencintaiMu lantaran Engkaulah Dzat yang pantas aku Cintai sepenuh hatiku.

Allahuma Amiin”
Pintaku penuh harap dan lirih...

Dengan harap-harap cemas ku sedari doa itu lantaran aku takut jika aku telah berbuat kesalahan. Entah hal apa yang mampu membuatku memberanikan diri untuk berdoa seperti itu, mungkin saja karena rasa penasaranku yang telah tertanam terhadap sosok yang kuyakini itu. Namun perasaan yakin bahwa aku tidak melakukan kesalahan membuatku sedikit lega.

Setelah itupun aku tertidur, mungkin karena aku terlelah...

*****


Beberapa waktu kemudian, kehidupanku mulai berubah, seeolah aku telah memulai lembaran hidupku yang baru, hal-hal yang telah terjadi seolah telah tersapu oleh air mata pembersihan diri ketika malam itu, membuatku bersemangat untuk mensucikan hati ini kepada siapa yang patut menempatinya.

Perasaanku lebih tenang setelah aku memohon maaf kepadaNya sehingga menjadikan kegundahanku terkikis beserta kecemasan-kecemasan lainnya. Namun, ada beberapa hal yang menurutku ajaib dari peristiwa yang aku alami sejak malam itu, entah mengapa dalam tidurku terkadang aku sering bermimpi didatangi oleh seseorang muslimah yang Insya Allah, shalehah dan baik keperibadiannya yang aku tidak pernah bertemu dengannya namun sepertinya aku mengenalinya, senyum, putih, pemalu, sosoknya menenangkan jiwa, membuat hatiku bergetar tentang kedatangannya. Hingga akupun berkesimpulan bahwa inikah jawaban Allah atas permintaanku waktu itu?. Aku tak mampu menjawabnya secara mutlak, namun keyakinanku dan gerak hatiku mampu meyakinkanku bahwa kedatangannya itu ada sangkut pautnya dengan keyakinanku kepada Allah akan terkabulnya doa yang pernah ku panjatkan kepada Allah ketika malam itu. Dan hal ini sedikit terbukti ketika aku melakukan istikharah untuknya, perasaan tenang yang tidak aku temukan jika aku meng-istikharahkan yang lainnya. Masya Allah...

Walaupun sosoknya telah tersibakkan, namun jika aku disuruh menggambarkan wajahnya maka aku tidak mampu, karena aku tidak bisa melihat jelas bagaimana wajahnya, namun sepertinya hanya hatiku-lah yang mampu mendeskripsikannya, hingga gambaran wajah itu mampu membawaku kepada ketenteraman dan ketenangan yang memuaskan hati. Mungkin dengan ini, hatiku telah berfatwa lagi atas dirinya...

Namun, bukan hanya wajahnya saja yang Allah tunjukkan kepadaku, melainkan karakter-karakter khasnya yang diperkenalkan kepadaku agar dengan itu mampu membedakan membantuku dirinya dengan yang lainnya secara lebih tepat. Masya Allah...



Sebelumnya aku mengira-ngira bahwa apa yang aku alami itu merupakan kebisaan fikiranku dalam berimaginasi, namun ketika ku telaah lagi, peristiwa itu dapat mengingatkanku kepada apa yang pernah Rasulullah sabdakan dalam sebuah hadith, meskipun hadith ini telah ditemukan olehku 5 tahun setelah kejadian itu.


"Rasulullah saw bersabda kepada Aisyah, “sebelum aku menikahimu, aku pernah melihatmu dua kali di dalam mimpi. Aku melihat Malaikat membawa secarik kain yang terbuat dari sutra. Kukatakan kepadanya, ‘Singkapkanlah.’ Malaikat itupun menyingkapnya. dan ternyata kain itu memuat gambarmu. lalu kukatakan, “jika ini merupakan ketentuan Allah, maka dia pasti akan membuatnya terjadi. ‘Pada kesempatan lain aku kembali melihatnya datang membawa secarik kain yang terbuat dari sutra. Maka kukatakan kepadanya, ‘Singkaplah.’ Malaikat itupun menyingkapnya. dan ternyata kain itu memuat gambarmu. lalu aku berkata, “jika ini merupakan ketentuan Allah, maka dia pasti akan membuatnya terjadi". (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Subhanallah, aku tidak percaya ini, namun aku tetap bertawakal kepada Allah jikalau aku mendapatkan kesalahan atas apa yang terjadi pada peristiwa tersebut.

Karena aku menyedari bahwa muslimah tersebut ku lihat di mimpiku, maka akupun berdoa kepada Allah agar Allah menghentikan keberadaannya dimimpiku lantaran aku tidak menginginkan apa yang aku mimpikan itu adalah penyerupaan jin, terkecuali di waktu ketika aku membutuhkan kedatangannya. Alhamdulillah, beberapa waktu kemudian aku tidak memimpikannya lagi, hingga akupun merasa agak lebih legaan lantaran aku takut jika syaitan ikut campur dalam hal ini. Bagiku cukup dengan Ketawakalan dan keyakinan dari hatiku yang terdalamlah yang sekiranya mampu membuatku membedakan dirinya dengan sesuatu yang menyerupai dirinya. Semoga Allah menunjuki kita semua kepada jalan yang benar. Allahuma Amiin

Memang dirinya sudah tidak sering datang di dalam mimpi-mimpiku. Namun, dirinya kadang-kadang datang diwaktu aku perlu ada yang menegurku. Entah mengapa setiap kali aku berbuat zalim seperti halnya aku tidak mampu menundukkan pandanganku, dirinya terkadang hadir dimimpiku beberapa hari kemudian ataupun bisa malam harinya ketika aku tertidur, untuk mengurku dengan bahasa khasnya yang cukup mampu menjadi nasehat dan introspeksiku atas perbuatan yang telah aku perbuat. Bukan hanya itu iapun juga akan  terlihat memberikan nuansa kepuasannya yang khas ketika aku mampu mengendalikan diriku. Dia seolah benar-benar telah hidup di dalam diriku meskipun aku tidak mengenali siapa dirinya. Namun aku yakin dia ada.

Dan ada pula beberapa hal spesial yang aku alami setelah peristiwa itu terjadi di mana perasaanku merasa tidak nyaman ketika aku menempatkan seseorang wanita untuk aku jatuh cintai jika bukan sosok tersebut, hatiku seolah terasa kering, tidak menenangkan dan mampu meresapi indahnya rasa cinta itu seperti hal yang pernah aku rasakan dahulu terhadap siapa yang mempesonakanku. Seolah hati itu telah menjadi tidak peka terhadap cinta ketika aku sembarangan menempatkan seseorang yang salah di sana. Namun ketika aku ingat dengan sosok yang pernah hadir dimimpiku itu, entah mengapa seolah hati ini begitu luas dan begitu 'basah' untuk menempatkan dirinya di hati ini. Subhanallah, hal ini benar-benar mampu mengajarkanku untuk mempertahankan perasaanku dengannya demi membantuku untuk mempertahankan Kecintaanku kepada Allah, lantaran aku menyedari bahwa hatiku hanya satu sehingga aku tidak mampu jika harus mencintai lebih dari satu cinta terkecuali aku mencintai yang lainnya karenaNya. Insya Allah


Mengenai keberadaannya pernah menjadi pertanyaan bagiku, namun hatiku lebih tenteram ketika meyakini bahwa keberadaannya itu memang benar-benar ada, meskipun aku tidak tahu dimanakah ia saat ini. Jika saja muslimah sehebat Aisyah, Fatimah, Khadijah, Asiah dan Maryam pernah hidup di bumi ini, maka hal itu membuatku makin percaya akan keberadaannya .

Persitiwa ini mampu menjadikanku tersadar akan keterbatasan kemampuanku dalam memelihara hati demi menjaga Kecintaanku kepada Allah, membuatku yakin dengan kedatangan seseorang yang akan aku nikahi dan membuatku mengurungkan diri untuk mengira-ngira seseorang disekelilingku sehingga hal ini dapat cenderung membuatku mengurangi kesia-siaan.

Namun seperti dari awal, aku berharap kepada Allah agar Allah mempertemukanku ketika aku hendak menikahinya lantaran aku tidak mau menjadikan hati ini berlama-lama bermain dengan perasaanku terhadapnya walaupun nantinya dirinya akan dinikahkan olehku.

Namun, aku tidak berharap banyak, cukuplah Allah sebagai harapanku, Allah mengajarkanku keikhlasan, dan karenanya aku mencoba ikhlas untuk menerima selain dari yang dicirikan itu, jikalau memang benar dia tidak ada di bumi ini dan diwaktu yang bersamaan denganku ketika aku hidup. Meskipun aku berharap kehadirannya lantaran aku merasakan bahwa dialah belahan jiwaku. Bisa jadi aku menemukan sosok itu setelah aku menikah dengan seorang muslimah, ataupun bisa jadi muslimah itu adalah anak-anakku nanti yang dimana hal itu akan sangat membanggakan orang tuanya karena mengetahui memiliki anak yang shaleh dan shalehah. Ataupun aku tidak menemukannya di manapun, karena bisa jadi dia adalah diriku sendiri yang memang telah Allah tentukan di dalam diriku agar aku bisa menjadi seperti dirinya dan mengajarkan itu kepada istriku kelak agar apa yang aku dapati dalam yakinku dapat terwujud. Masya Allah

Aku tidak 'jatuh cinta' bukan karena aku tidak seperti laki-laki pada biasanya. Hatiku kupersembahkan kepada Pemiliknya, dan diisi hanya kepada yang halal olehku, siapapun yang mengisinya nanti, dialah bidadariku... Subahanllah...

Insya Allah

Terima kasih kepada siapa yang pernah mengalami peristiwa ini, Semoga Allah senantiasa Merahmati dan mengampunkan segala dosa-dosamu beserta dosa-dosa kita semua dan menjadikan kita semua orang-orang yang dijauhi dari kesia-siaan. Allahuma Amiin

~ Alangkah bertuahnya dapat jadi macam ni..mungkin tak terlewat untukku..namun ku bersyukur dia masih mampu bersabar denganku..aku cuba sebaik mungkin menjaga hati ini untuknya..kuatkanlah aku....

1 comment:

Pelita Hati Aika said...

Sangat menginspirasi...
Terimakasih....